- Hambatan listrik digunakan untuk mengatur besarnya arus listrik dalam suatu rangkaian.
Jika hambatan listrik dilalui arus listrik akan terjadi perubahan energi listrik menjadi
energi kalor, dan hal ini merupakan prinsip kerja, misalkan kompor dan setrika listrik.
Hambatan listrik dari suatu pengantar (konduktor) adalah perbandingan dari beda potensial
antara ujung konduktor dengan arus listrik yang melaluinya. Oleh karena itu salah satu cara
untuk mengukur besar hambatan listrik dari konduktor adalah mengukur beda potensial dari
ujung-ujungnya dengan voltmeter dan juga mengukur arus listrik yang melaluinya dengan amperemeter.
Untuk pengukuran hambatan listrik dengan voltmeter dan amperemeter dapat digunakan rangkaian- rangkaian seperti pada gambar 1a atau gambar 1b.
Pada gambar 1a amperemeter A mengukur arus iR yang melalui hambatan R, tetapi voltmeter V menunjukkan pembacaan beda potensial Vac dan bukan beda potensial Vbc yaitu beda potensial yang sebenarnya dari ujung-ujung hambatan R.
Cara pengukuran hambatan R dengan rangkaian gambar 1a hanya akan memberikan nilai R yang sebenarnya yaitu perbandingan dari Vac dan iR jika hambatan dalam dari amperemeter RA sama dengan nol.
Jika, RA ¹0 yang diperoleh dari hasil bagi Vac dan iR harus dikoreksi.
Pada rangkaian gambar 1b voltmeter V menunjukkan pembacaan beda potensial Vab dari ujung-ujung R, tetapi amperemeter A menunjukkan pembacaan arus i dimana i = iR + iV yaitu ir arus yang melalui R dan iV arus yang melalui voltmeter V. Nilai R yang sebenarnya adalah Vab dibagi dengan iR tetapi karena yang ditunjukkan oleh amperemeter ialah i, nilai R yang diperoleh dari pembacaan pada voltmeter V dan amperemeter A harus dikoreksi untuk memperoleh nilai R yang sebenarnya. - Cara lain untuk mengukur besar hambatan listrik yang belum diketahui ialah metoda "Jembatan Wheatstone".
Mengukur besarnya hambatan listrik yang belum diketahui dengan metoda "Jembatan Wheatstone" pada dasarnya
ialah membandingkan besar hambatan yang belum diketahui dengan besar hambatan listrik yang sudah diketahui
nilainya. Gambar 2 menunjukkan prinsip dari rangkaian listrik Jembatan Wheatstone.
Keterangan :
E : sumber tegangan listrik searah.
S : penghubung arus.
G : galvanometer.
RG : hambatan geser (rheo stat).
R1 dan R2 : hambatan listrik yang diketahui nilainya.
Rb : bangku hambatan.
X : hambatan yang akan ditentukan nilainya.
Setelah S ditutup, dalam rangkaian akan ada arus listrik. Jika jarum dari galvanometer G mengalami penyimpangan berarti ada arus listrik yang melalui galvanometer G, berarti juga antara titik C dan titik D ada beda potensial.
Dengan mengubah-ubah besarnya hambatanRb, R1 dan juga R2, dapat diusahakan sehingga galvanometer G tidak dilalui arus lagi, yang berarti potensial titik C dan titik D sama. Karena itu arus yang melalui R1 dan R2 sama, misalnya i1. Demikian juga arus yang melalui Rb dan X sama misalnya i2.
Dengan menggunakan hukum Ohm, dapat diperoleh nilai dari X yang dinyatakan dengan R1, R2 dan Rb sebagai berikut :
Untuk menyederhanakan rangkaian dan mempermudah pengukuran hambatan R1 dan hambatan R2 antara A dan B dapat digantikan dengan kawat lurus yang serba sama dan panjangnya L.
Untuk menambah ketelitian pengukuran pada rangkaian dapat ditambahkan komutator K yang dapat digunakan untuk membalikkan arah arus dalam rangkaian. Pada kawat hambatan dapat digeser-geserkan kontak geser C untuk mengubah-ubah besarnya hambatan RAC dan RCB.
Dengan mengeser-geserkan kontak geser C pada kawat hambatan AB atau dengan mengubah-ubah Rb, dapat dicapai keadaan hingga potensial titik C sama dengan potensial titik D, yang dalam hal ini ditunjukkan oleh tidak menyimpangnya jarum dari galvanometer G. Jika hal ini telah dicapai, maka X dapat dinyatakan dengan persamaan :
Dengan mengukur panjang L1 (panjang kawat AC) dan L2 = L - L1 (panjang kawat CB) maka jika R telah diketahui besarnya hambatan X dapat dihitung dengan persamaan (2)
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------Apa itu jembatan wheatstone?Meskipun namanya jembatan tapi jembatan yang satu ini bukan berbentuk konstruksi jembatan yang sering kita lihat. yang menghubungkan dua tempat terpisah karena sesuatu (misal jembatan di sungai). Istilah jembatan wheatstone dipakai dalam rangkaian elektronika untuk menyebut suatu rangkaian komponen elektronika.Jembatan Wheatstone
Wheatstone BridgeRangkaian elektrik ini dibuat oleh Samuel Hunter Christie pada tahun 1833 dan dikembangkan lebih lanjut dan dipopulerkan oleh Sir Charles Wheatstone pada tahun 1843 sehingga terkenal dengan jembatan wheatstone. Gunanya adalah untuk mengukur hambatan dengan cara menyeimbangkan kedua sisi rangkaian jembatan (bridge circuit). Satu sisi jembatan terdapat komponen yang tak diketahui nilai resistansinya sedangkan sisi lain diketahui nilai resistansinya. Operasi ini juga mirip dengan potensiometer. Jembatan ini dibuat dengan merangkai empat buah hambatan dalam susunan seperti gambar di atas ini.Operasi
Pada gambar di atas, Rx adalah komponen yang ingin diketahui hambatannya. R1, R2, dan R3 adalah resistor yang diketahui hambatannya dan hambatan pada R2 dapat diubah dan disesuaikan. Jika perbandingan antara kedua hambatan di sisi yang diketahui (R2/R1) sama dengan perbandingan sisi yang dicari, tegangan antara kedua titik potong (B dan D) akan menjadi nol dan tak ada arus listrik yang mengalir melalui galvanometer Vg. Jika jembatan tak seimbang (atau nilai salah satu sisi hambatan lebih besar dari hambatan lainnya), arah arus yang mengalir akan mengindikasikan apakah R2 terlalu tinggi atau terlalu rendah. R2 akan bervariasi atau diubah-ubah nilainya sampai tidak ada arus mengalir melalui galvanometer, yang berarti terbaca nol.Pada posisi seimbang, perbandingan antara R2 / R1 = Rx / R3Atau dapat ditulis Rx = (R2 / R1) x R3Selain itu, jika R1, R2 dan R3 diketahui namun R2 tidak dapat diubah-ubah nilai hambatannya, perbedaan tegangan yang ada atau arus yang mengalir melalui galvanometer dapat digunakan untuk mengukur nilai Rx. Hmmm… gimana caranya? Kita dapat menggunakan hukum Kirchoff (disebut juga dengan aturan Kirchoff) untuk melakukannya.Penurunan Rumus
Kita sudah melihat bagaimana rumus untuk menghitung hambatan yang ingin diketahui. Namun darimana kita bisa mendapatkan persamaan tersebut? Petunjuknya adalah menggunakan hukum Kirchoff. Lebih tepatnya adalah hukum Kirchoof pertama untuk mencari arus yang mengalir pada simpul B dan D.Kemudian hukum Kirchoff kedua untuk mencari tegangan pada loop ABD dan BCD.Jika dianggap jembatan dalam keadaan seimbang, Ig = 0, sehingga persamaan di atas dapat ditulis sebagai berikut:Kemudian persamaan-persamaan tersebut dibagi dan disusun menjadi:Dari aturan pertama, I3 = Ix and I1 = I2 Sehingga nilai Rx sekarang diketahui dengan persamaan:Jika keempat nilai resistor dan sumber tegangan diketahui dan hambatan galvanometer cukup tinggi sehingga arus Ig dapat diabaikan, tegangan pada jembatan (VG) dapat diketahui dengan cara memeriksa tegangan setiap pembagi tegangan dan mengurangi nilainya dari masing-masing komponen lain. Langsung saja contohnya:Persamaan ini dapat disederhanakan menjadi:Dimana VG adalah tengangan simpul B relatif terhadap simpul D.
Lebih baik menjadi diri sendiri yang bahagia,, daripada menjadi orang lain yang tertekan..
Senin, 19 November 2012
JEMBATAN WEATSTONE
PESAWAT ATWOOD
V. TINJAUAN PUSTAKA
Galileo melakukan pengamatan
mengenai benda-benda jatuh bebas. Ia menyimpulkandari pengamatan-pengamatan
yang dia lakukan bahwa benda-benda berat jatuhdengan cara yang sama dengan
benda-benda ringan. Tiga puluh tahun kemudian,Robert Boyle, dalam sederetan
eksperimen yang dimungkinkan oleh pompa vakum barunya, menunjukan bahwa
pengamatan ini tepat benar untuk benda-benda jatuhtanpa adanya hambatan dari
gesekan udara. Galileo mengetahui bahwa ada pengaruhhambatan udara pada gerak jatuh.
Tetapi pernyataannya walaupun mengabaikanhambatan udara, masih cukup sesuai
dengan hasil pengukuran dan pengamatannyadibandingkan dengan yang dipercayai orangpada saat itu (tetapi tidak diuji denganeksperimen) yaitu kesimpulan Aristoteles yang
menyatakan bahwa,” Benda yang beratnya sepuluh kali benda lain akan sampai
ke tanah sepersepuluh waktu dari waktu benda yang lebih ringan”.Selain itu
Hukum Newton I menyatakan bahwa,” Jika resultan gaya yang bekerja pada
suatu sistem sama dengan nol, maka sistem dalam keadaan setimbang”.
ΣF = 0
Hukum Newton II berbunyi :”
Bila gaya resultan F yang bekerja pada suatu
bendadengan massa m tidak sama dengan nol, maka
benda tersebut mengalami percepatanke arah yang sama dengan gaya”. Percepatan a berbanding lurus dengan gaya dan berbanding terbalik dengan massa benda.a = F atau F = m.a m
Hukum Newton II memberikan
pengertian bahwa :
1. Arah percepatan benda sama
dengan arah gaya
yang bekerja pada benda.
2. Besarnya percepatan
berbanding lurus dengan gayanya.
3. Bila gaya
bekerja pada benda maka benda mengalami percepatan dansebaliknya bila benda
mengalami percepatan tentu ada gaya
penyebabnya.
Hukum Newton III :” Setiap gaya yang diadakan pada suatu benda, menimbulkangaya lain
yang sama besarnya dengan gaya
tadi, namun berlawanan arah”. Gayareaksi ini dilakukan benda pertama pada benda
yang menyebabkan gaya. Hukum inidikenal dengan Hukum Aksi Reaksi.Faksi = -Freaksi
Untuk percepatan yang konstan
maka berlaku persamaan Gerak yang disebut Gerak Lurus Berubah Beraturan. Bila
sebuah benda berputar melalui porosnya, maka gerak melingkar ini berlaku
persamaan-persamaan gerak yang
ekivalen dengan persamaan- persamaan
gerak linier. Dalam hal ini besaran fisis momen inersia (I) yang ekivalendengan
besaran fisis massa
(m) pada gerak linier. Momen inersia suatu bendaterhadap poros tertentu
harganya sebanding dengan massa
benda tersebut dansebanding dengan kuadrat dan ukuran atau jarak benda pangkat
dua terhadap poros.
I ~ m
I
~ r2
Untuk katrol dengan beban
maka berlaku persamaan :
a = (m+m1) – m2 . gm + m1 +
m2 + I/ r2
dengan
a = percepatan gerak
m
= massa beban
I = momen inersia katrol
r = jari-jari katrol
g = percepatan gravitasi
Udara akan memberikan
hambatan udara atau gesekan udara terhadap benda yang jatuh. Besarnya gaya gesekan udara yang
akan gerak jatuh benda berbanding lurusdengan luas permukaan benda. Makin besar
luas permukaan benda, makin besar gayagesekan udara yang bekerja pada benda
tersebut. Gaya
ini tentu saja akanmemperlambat gerak jatuh benda. Untuk lebih memahami secara
kualitatif tentanghambatan udara pada gerak jatuh, kita dapat mengamati gerak
penerjun payung.Penerjun mula-mula terjun dari pesawat tanpa membuka
parasutnya. Gaya
hambatanudara yang bekerja pada penerjun tidak begitu besar, dan jika
parasutnya terus tidak tidak terbuka, penerjun akan mencapai kecepatan
akhir kira-kira 50 m/s ketika sampaidi tanah. Kecepatan itu kira-kira sama
dengan kecepatan mobil balap yang melajusangat cepat. Sebagai akibatnya,
penerjun akan tewas ketika sampai di tanah. Denganmengembangkan parasutnya, luas permukaan menjadi cukup besar,
sehingga gayahambatan udara yang
bekerja papa penerjun cukup basar untuk memperlambatkelajuan terjun.
Berdasarkan hasil demonstrasi ini dapatlah ditarik kesimpulansementara bahwa
jika hambatan udara dapat diabaikan maka setiap benda yang jatuhakan
mendapatkan percepatan tetap yang sama tanpa bergantung pada bentuk danmassa
benda. Percepatan yang tetap ini disebabkan oleh medan gravitasi bumi yangdisebut percepatan
gravitasi (g). Di bumi percepatan gravitasi bernilai kira-kira 9,80m/s2. untuk
mempermudah dalam soal sering dibulatkan menjadi 10 m/s2.
Untuk membuktikan pernyataan
diatas bahwa jika hambatan udara dihilangkan, setiap benda jatuh akan
mendapat percepatan tetap yang sama tanpa bergantung pada bendadan massa benda,
di dalam laboratorium biasanya dilakukan percobaan menjatuhkandua benda yang
massa dan bentuknya sangat berbeda di dalam ruang vakum.Sehubungan dengan hal
di atas, Gerak Jatuh Bebas adalah gerak suatu bendadijatuhkan dari suatu
ketinggian tanpa kecepatan awal dan selama geraknyamengalami percepatan tetap
yaitu percepatan gravitasi, sehingga gerak jatuh bebastermasuk dalam gerak
lurus berubah beraturan. Perhatikan karena dalam gerak jatuh bebas, benda
selalu bergerak ke bawah maka unutk mempermudah perhitungan, kitatetapkan arah
ke bawah sebagai arah positif. Persamaan-persamaan yang digunakandalam gerak jatuh bebas adalah :
vo = 0 dan a = g
vo = 0 dan a = g
keterangan :
a1, a2 : silinder beban
a3 : beban
b : katrol yang dapat
bergerak bebas
c : tali penggantung
d : penyangkut beban
e : penghenti silinder
f : tiang penggantung
g : penjepit silinder
Jika pada sistem
pesawat dilepaskan penjepitnya,
maka sistem akan bergerak dengan percepatan
tetap. Besarnya percepatan a berbanding lurus dengan gayanya. Untuk gaya yang konstan, maka
percepatan tetap sehingga berlaku persamaan gerak lurus berubah beraturan
:
xt = ½ at2
dimana:
t = waktu tempuh
a = percepatan system
xt = jarak setelah t detik
Setelah beban mb ditahan oleh
pengangkut beban, silinder a1 dan a2 tetapmelanjutkan gerakannya dengan
kecepatan konstan. Dalam keadaan
ini resultan gayayang bekerja pada
sistem sama dengan nol (sesuai dengan hukum Newton I ).Sehingga jarak tempuh silinder a1
dan a2 setelah beban tersangkut, dapat dinyatakansebagai berikut :
xt = v.t
Gerak RotasiBila sebuah benda
mengalami gerak rotasi melalui porosnya, ternyata pada gerak iniakan berlaku
persamaan gerak yang ekuivalen dengan persamaan gerak linier.
Apabila torsi bekerja padabenda yang momen inersianya I, maka
dalam bendaditimbulkan percepatan sudut yaitu :Τ = I.α
Persamaan Gerak untuk
KatrolBila suatu benda hanya dapat berputar pada porosnya yang diam, maka
geraknyadapat dianalisa sebagai berikut :
NΣF = 0
r -T1 – m + T2 + N = 0
-T1 + T2 = 0
-T1 = T2mg
T1 T2
Bila beban diputar dan katrol
pun dapat berputar pula maka geraknya dapat dianalisissebagai berikut :
T1 T2
T1 T2
m2
m1 m
Στ = Iα
T1.r + T2.r = Iα
Percepatannya adalah : a = (m+m1) – m2 . g
m + m1 + m2 + I/ r2
Hukum Newton III :” Setiap gaya yang
diadakan pada suatu benda, menimbulkangaya lain yang sama besarnya dengan gaya tadi, namun
berlawanan arah”. Gaya reaksi ini dilakukan
benda pertama pada benda yang menyebabkan gaya.
Hukum inidikenal dengan Hukum Aksi Reaksi.Faksi = -Freaksi Untuk percepatan
yang konstan maka berlaku persamaan Gerak yang disebut Gerak Lurus Berubah
Beraturan. Bila sebuah benda berputar melalui porosnya, maka gerak melingkar
ini berlaku persamaan-persamaan gerak yang ekivalen dengan persamaan- persamaan
gerak linier. Dalam hal ini besaran fisis momen inersia (I) yang ekivalen
dengan besaran fisis massa
(m) pada gerak linier. Momen inersia suatu bendaterhadap poros tertentu
harganya sebanding dengan massa
benda tersebut dan sebanding dengan kuadrat dan ukuran atau jarak benda pangkat
dua terhadap poros.I ~ mI ~ r2Untuk katrol dengan beban maka berlaku persamaan
:a = (m+m1) – m2 . gm + m1 + m2 + I/ r2 dengan a = percepatan gerak m = massa beban I = momen
inersia katrolr = jari-jari katrolg = percepatan gravitasi Udara akan
memberikan hambatan udara atau gesekan udara terhadap benda yang jatuh.
Besarnya gaya
gesekan udara yang akan gerak jatuh benda berbanding lurusdengan luas permukaan
benda. Makin besar luas permukaan benda, makin besar gayagesekan udara yang
bekerja pada benda tersebut. Gaya
ini tentu saja akan memperlambat gerak jatuh benda. Untuk lebih memahami secara
kualitatif tentanghambatan udara pada gerak jatuh, kita dapat mengamati gerak
penerjun payung.Penerjun mula-mula terjun dari pesawat tanpa membuka
parasutnya. Gaya
hambatan udara yang bekerja pada penerjun tidak begitu besar, dan jika
parasutnya terus tidak tidak terbuka, penerjun akan mencapai kecepatan akhir
kira-kira 50 m/s ketika sampaidi tanah. Kecepatan itu kira-kira sama dengan
kecepatan mobil balap yang melajusangat cepat. Sebagai akibatnya, penerjun akan
tewas ketika sampai di tanah. Dengan mengembangkan parasutnya, luas permukaan
menjadi cukup besar, sehingga gayahambatan udara yang bekerja papa penerjun
cukup basar untuk memperlambatkelajuan terjun. Berdasarkan hasil demonstrasi
ini dapatlah ditarik kesimpulan sementara bahwa jika hambatan udara dapat
diabaikan maka setiap benda yang jatuhakan mendapatkan percepatan tetap yang
sama tanpa bergantung pada bentuk dan massa
benda. Percepatan yang tetap ini disebabkan oleh medan gravitasi bumi yang disebut percepatan
gravitasi (g). Di bumi percepatan gravitasi bernilai kira-kira 9,80m/s2. untuk
mempermudah dalam soal sering dibulatkan menjadi 10 m/s2.
Untuk membuktikan pernyataan diatas bahwa jika hambatan udara
dihilangkan, setiap benda jatuh akan mendapat percepatan tetap yang sama tanpa
bergantung pada benda dan massa benda, di dalam laboratorium biasanya dilakukan
percobaan menjatuhkandua benda yang massa dan bentuknya sangat berbeda di dalam
ruang vakum.Sehubungan dengan hal di atas, Gerak Jatuh Bebas adalah gerak suatu
bendadijatuhkan dari suatu ketinggian tanpa kecepatan awal dan selama
geraknyamengalami percepatan tetap yaitu percepatan gravitasi, sehingga gerak
jatuh bebastermasuk dalam gerak lurus berubah beraturan. Perhatikan karena
dalam gerak jatuh bebas, benda selalu bergerak ke bawah maka unutk mempermudah
perhitungan, kitatetapkan arah ke bawah sebagai arah positif.
Persamaan-persamaan yang digunakandalam gerak jatuh bebas adalah :vo = 0 dan a
= gketerangan :a1, a2 : silinder bebana3 : beban b : katrol yang dapat bergerak
bebasc : tali penggantungd : penyangkut bebane : penghenti silinder f : tiang
penggantungg : penjepit silinder Jika pada sistem pesawat dilepaskan
penjepitnya, maka sistem akan bergerak dengan percepatan tetap. Besarnya
percepatan a berbanding lurus dengan gayanya. Untuk gaya yang konstan, maka percepatan tetap
sehingga berlaku persamaan gerak lurus berubah beraturan :xt = ½ at2dimana:t =
waktu tempuha = percepatan sistemxt = jarak setelah t detik Setelah beban mb
ditahan oleh pengangkut beban, silinder a1 dan a2 tetapmelanjutkan gerakannya
dengan kecepatan konstan. Dalam keadaan ini resultan gayayang bekerja pada
sistem sama dengan nol (sesuai dengan hukum Newton I ).Sehingga jarak tempuh silinder a1
dan a2 setelah beban tersangkut, dapat dinyatakansebagai berikut :xt = v.tGerak
RotasiBila sebuah benda mengalami gerak rotasi melalui porosnya, ternyata pada
gerak ini akan berlaku persamaan gerak yang ekuivalen dengan persamaan gerak
linier.
Apabila torsi bekerja pada benda yang momen inersianya I, maka dalam
bendaditimbulkan percepatan sudut yaitu :Τ = I.αPersamaan Gerak untuk
KatrolBila suatu benda hanya dapat berputar pada porosnya yang diam, maka
geraknyadapat dianalisa sebagai berikut : NΣF = 0r -T1 – m + T2 + N = 0-T1 + T2
= 0-T1 = T2mgT1 T2Bila beban diputar dan katrol pun dapat berputar pula maka
geraknya dapat dianalisissebagai berikut :T1 T2T1 T2m2m1 mΣτ = IαT1.r + T2.r =
IαPercepatannya adalah : a = (m+m1) – m2 . gm + m1 + m2 + I/ r2
Pesawat Atwood..
adalah alat yang digunakan untuk
yang menjelaskan hubungun antara
tegangan, energi pontensial dan energi kinetik
dengan alat dua benda dengan 2 pemberat (massa berbeda) dihubungkan dengan tali pada sebuah katrol
ok benda yang yang lebih berat diletakan lebih tinggi
posisinya dibanding yang lebih ringan..
jadi nanti benda yang berat akan turun karena gravitasi... dan menarik benda yang lebih ringan karena ada tali dan katrol
ok.. sebenernya ada rumusnya ada termasuk gaya gesekan... di poros katrol.. pada tali.. dan gesekan pada udara...
Dan juga ada momen inersia dari katrol (harus gunakan katrol yang sangat ringan)
tapi gesekan dan moment inersia ini diabaikan.. (dianggap sangat kecil)
maka tegangan pada tali...
T − m1g = m1a; m2g − T = m2a
nah percobaannya... dengan mengunakan stopwatch...
panjang jatuh di ukur dengan pengukur panjang
ketemu dech kecepatannya
dimana v = l / t (kecepatan rata2)
dan v awal = 0
maka diketahui dech percepatannya
nah percepatannya adalah = g
alias gravitasi...
jadinya alat ini adalah alat sederhana untuk mengetahui percepatan gravitasi... walau ada kekurangan yaitu.. dengan asumsi gesekan diabaikan :)
tapi dulu waktu praktikum fisika dasar.. aku mendapatkan angka yang mendekati dengan angka gravitasi yang cocok loh :)
adalah alat yang digunakan untuk
yang menjelaskan hubungun antara
tegangan, energi pontensial dan energi kinetik
dengan alat dua benda dengan 2 pemberat (massa berbeda) dihubungkan dengan tali pada sebuah katrol
ok benda yang yang lebih berat diletakan lebih tinggi
posisinya dibanding yang lebih ringan..
jadi nanti benda yang berat akan turun karena gravitasi... dan menarik benda yang lebih ringan karena ada tali dan katrol
ok.. sebenernya ada rumusnya ada termasuk gaya gesekan... di poros katrol.. pada tali.. dan gesekan pada udara...
Dan juga ada momen inersia dari katrol (harus gunakan katrol yang sangat ringan)
tapi gesekan dan moment inersia ini diabaikan.. (dianggap sangat kecil)
maka tegangan pada tali...
T − m1g = m1a; m2g − T = m2a
nah percobaannya... dengan mengunakan stopwatch...
panjang jatuh di ukur dengan pengukur panjang
ketemu dech kecepatannya
dimana v = l / t (kecepatan rata2)
dan v awal = 0
maka diketahui dech percepatannya
nah percepatannya adalah = g
alias gravitasi...
jadinya alat ini adalah alat sederhana untuk mengetahui percepatan gravitasi... walau ada kekurangan yaitu.. dengan asumsi gesekan diabaikan :)
tapi dulu waktu praktikum fisika dasar.. aku mendapatkan angka yang mendekati dengan angka gravitasi yang cocok loh :)
Daftar Pustaka :
http://novanurfauziawati.files.wordpress.com/2012/01/modul-2-pesawat-atwood1.pdf
ASAM DAN BASA
ASAM-BASA DAN APLIKASINYA DALAM ANALISIS SENYAWA
Penggolongan
berbagai senyawa kimia dialam yang sangat melimpah baik dari segi jumlah maupun
jenisnya berdasarkan sifat asam dan basa sangat membantu para ilmuwan dalam
menyederhanakan obyek studi mereka, sehingga mempermudah proses pembelajaran
berikutnya. Senyawa-senyawa dialam yang dapat dikelompokkan kedalam kelompok
senyawa asam atau basa sangat melimpah jumlahnya, dengan tingkat keasaman dan
kebasaan yang bervariasi.
Tentu tidak semua orang mengerti akan
konsep asam dan basa ini, meski hampir dapat dipastikan setiap orang hampir
setiap hari berhubungan dengan zat-zat baik yang bersifat asam maupun basa
dalam kehidupannya. Sebagai contoh, makanan yang kita konsumsi umumnya bersifat
asam, sedangkan produk-produk pembersih seperti sabun dan detergen bersifat
basa.
Istilah asam (acid) berasal dari bahasa
Latin Acetum yang berarti cuka. Sedangkan istilah alkali (sebutan lain untuk
basa) berasal dari bahasa Arab yang berarti abu. Basa digunakan dalam pembuatan
sabun. Asam dan basa memiliki sifat khas yang saling menetralkan. Dialam, asam
ditemukan dalam buah-buahan dan produk lain dari tanaman. Asam mineral yang
lebih kuat telah dibuat pada pertengahan abad 19, seperti aqua forti (asam
nitrat) yang digunakan dalam proses pemisahan emas.
Sifat asam dan basa juga sangat berpengaruh
terhadap kondisi lingkungan dan makhluk hidup pada lingkungan tersebut.
Keasaman tanah akan akan berpengaruh terhadap kondisi tumbuhan yang ada
diatasnya. Kualitas air juga ditentukan dengan mengukur tingkat keasamannya.
Hujan asam bahkan akan menyebabkan kerusakan lingkungan yang signifikan.
Umumnya senyawa asam atau basa murni (tidak
bercampur dengan senyawa lain) yang ada dialam berbentuk larutan. Begitupun
dalam keperluan analisis, umumnya dilakukan dalam bentuk larutannya.
SIFAT-SIFAT ASAM
DAN BASA
Secara umum asam dan basa memiliki sifat
yang berbeda dan berlawanan.
Sifat-sifat asam:
- Rasanya masam ketika dilarutkan dalam air
- Asam terasa menyengat saat disentuh, terutama bila asam tersebut adalah asam kuat
- Dari segi reaktivitasnya, asam bereaksi kuat dengan kebanyakan logam, atau bersifat korosif terhadap logam
- Dari segi daya hantar listriknya, asam walaupun tidak selalu ionik, ia bersifat elektrolit atau dapat menghantarkan arus listrik.
Sifat-sifat basa:
- Rasanya pahit
- Terasa licin seperti sabun saat disentuh
- Dari segi reaktivitasnya, senyawa basa bersifat kaustik yaitu dapat merusak kulit jika senyawa basa tersebut berkadar tinggi
- Basa juga merupakan senyawa elektrolit atau dapat menghantarkan arus listrik
Berkaitan dengn asam basa ini, suatu
larutan dapat dikelompokan menjadi larutan asam, basa dan netral. Meskipun
larutan asam dan basa memiliki rasa yang sangat berbeda, namun membedakan
senyawa asam dan basa dengan cara mencicipinya, bukanah cara yang bijaksana dan
sanga tidak dianjurkan. Karena banyak senyawa asam atau basa tersebut yang akan
menimbulkan efek merugikan yang berarti terhadap kesehatan. Sebagai contoh asam
sulfat (H2SO4) dapat menyebabkan luka bakar yang serius. Penggunaan indikator
asam basa adalah cara terbaik saat ini yang dapat digunakan untuk mengetahui
apakah larutan tersebut bersifat asam, basa, atau netral.
Sifat asam dan basa suatu larutan juga
dapat ditunjukan dengan mengukur PHnya. PH merupakan suatu parameter yang
digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman larutan. Larutan asam mempunyai PH
yang lebih kecil dari 7, larutan basa mempunya PH lebih dari 7 dan larutan
netral memiliki PH 7. Untuk mengukur PH dapat digunakan alat PH meter atau
indikator PH (indikator universal).
TEORI ASAM BASA
Dipertengahan abad ke 17, Kimiawan
Jerman Johann Rudolf Glauber yang tinggal di Belanda, menghasilkan dan menjual
berbagai bahan kimia asam dan basa. Dia dikenal sebagai insinyur kimia pertama.
Pada masa itu pulalah dimulai studi mendalam mengenai asam dan basa ini.
Boylem, rekan sezaman Glauber menemukan metode penggunaan pewarna yang
diperoleh dari tanaman Roccella sebagai indikator asam dan basa. Pada saat itu
telah diketahui bahwa senyawa asam dan basa memiliki sifat yang berlawanan dan
dapat meniadakan satu sama lain. Sebelum perkembangan kimia asam didefinisikan
sebagai sesuatu yang masam, dan alkali atau basa sebagai sesuatu yang akan
menghilangkan atau menetralkan efek asam.
Awalnya ada kebingungan tentang sifat dasar
asam. Pada saat itu oksigen dianggap sebagai komponen penting dari asam. Bahkan
nama "Oksigen" yang dalam bahasa Yunani berarti "sesuatu yang
masam" diambil karena adanya anggapan tersebut.
Pada pertengahan abad 19, Davy menemukan
bahwa hidrogen klorida (HCl) dalam larutan air memberikan sifat asam, namun
senyawa ini tidak mengandung komponen oksigen. Fakta tersebut pun kemudian
mematahkan anggapan sebelumnya yang menganggap bahwa sifat asam ditentukan oleh
adanya unsur oksigen. Dan sebagai gantinya, ia mengusulkan bahwa hidrogen
adalah komponen penting dalam asam.
Sifat asam pertama dapat diketahu secara
kuantitatif pada akhir abad 19. Tahun 1884, Kimiawan Swedia Svante August
Arrhenius mengemukan teori disosiasi elektrolit yang menyatakan bahwa
elektrolit semacam asam, basa dan garam terdisosiasi menjadi ion-ion
komponennya dalam air. Lebih lanjut ia mengatakn bahwa beberapa elektrolit
terdisosiasi sempurna (elektrolit kuat) dan beberapa diantaranya hanya akan
terdisosiasi sebagian (elektrolit lemah). Teori asam basa berkembang pesat
sejak diungkapkannya teori ini.
Hingga kini, terdapat tiga 3 teori asam
basa yang terkenal dan digunakan secara umum dalam dunia pendidikan. Teori
tersebut adalah Teori Arrhenius, Teori Bronste-Lowry, dan Teori Lewis.
Teori Asam Basa
Arrhenius
Tahun 1886,
Arrhenius mengungkapkan teori asam basanya berdasarkan teori disosiasi
elektrolit. Arrhenius mendefinisikan asam sebagai zat yang menghasilkan ion
hidrogen (H+) dalam larutan. Sedangkan basa adalah zat yang menghasilkan ion
hdroksida (OH-)
dalam larutan. Penetralan antara asam dan basa dapat terjadi karena ion H+ dan OH- bereaksi membentuk
molekul air (H2O).
Suatu senyawa asam seperti asam klorida
(HCl) akan dinetralkan oleh natrium hidroksida (NaOH) dalam larutan amonia.
Dalam kasus tersebut, akan diperoleh larutan jernih yang dapat dikristalkan
untuk memisahkan senyawa natrium klorida (NaCl) maupun amonium klorida (NH4Cl)
sebagai produk reaksi tersebut. Dalam kasus tersebut HCl bereaksi dengan NaOH
membentuk garam NaCl dan air, dan dengan amonia (NH4OH) HCl bereaksi membentuk
NH4Cl dan air. Prinsip reaksi pada keduanya adalah sama, yaitu reaksi
netralisasi.
Jumlah ion H+ yang dapat dihasilkan oleh
satu molekul asam disebut valensi asam, sedangkan ion negatif yang terbentuk
dari asam setelah melepaskan ion H+ disebut ion sisa asam. Contoh-contoh
senyawa asam adalah:
- HF (asam fluorida), bervalensi 1 dengan ion sisa F-
- HCl (asam klorida), valensi 1, ion sisa Cl-
- HBr (asam bromida), valensi 1, ion sisa Br-
- HCN (asam sianida), valensi 1, ion sisa CN-
- H2S (asam sulfida), valensi 2, ion sisa S2-
- HNO3 (asam nitrat), valensi 1, ion sisa NO3-
- H2SO4 (asam sulfat), valensi 2, ion sisa Sulfat
- H3PO4 (asam fosfat), valensi 3, ion sisa fosfat
- CH3COOH (asam asetat), valensi 1, ion sisa asetat
Basa Arrhenius adalah senyawa hidroksida
logam M(OH)x yang dalam air terurai menjadi :
M(OH)x ----->
Mx+ + xOH-
Jumlah ion OH- yang dapat dilepaskan oleh molekul basa
disebut valensi basa. Contoh beberapa senyawa basa adalah:
- NaOH (natrium hidroksida)
- KOH (kalium hidroksida)
- Mg(OH)2 (magnesium hidroksida)
- Ca(OH)2 (kalsium hidroksida)
- Fe(OH)3 (besi(III) hidroksida)
- Al(OH)3 (aluminium hidroksida)
Konsep pH, pOH dan
pKw
Konsep pH
Jeruk nifis dan cuka sama-sama memiliki sifat
asam, namun dengan tingkat keasaman yang berbeda. Derajat atau tingkat keasaman
larutan bergantung pada konsentrasi ion H+ dalam larutan. Semakin besar
konsentrasi ion H+ maka semakin asam larutan tersebut.
Untuk menyatakan derajat keasamannya, maka
Soren Lautiz Sorensen memperkenalkan suatu bilangan sederhana untuk menyatakan
keasaman larutan tersebut. Bilangan ini diperoleh dari hasil logaritma
konsentrasi ion H+ dalam larutan tersebut. Bilangan tersebut terkenal dengan
istilah skala pH. Harga pH berkisar antara 1-14.
pH = -log [H+]
Karena pH dan konsentrasi H+ dihubungkan
dengan tanda negatif, maka makin besar konsentrasi H+ makin kecil nilai pH. Dan
karena bilangan dasar logaritma adalah 10, maka larutan dengan nilai pH berbeda
sebesar n, maka akan mempunyai perbedaan konsentrasi ion H+ sebesar 10n.
Sebagai contoh:
[H+] = 0,01 M, maka pH
= 2
[H+] = 0,001 M, maka pH
= 3
maka dapat disimpulkan bahwa, makin besar
konsentrasi ion H+, maka makin kecil pHnya. Larutan dengan pH 1 memiliki
keasaman 10 kali lebh besar dari larutan asam dengan pH 2.
Konsep
pOH
pOH analog dengan pH yaitu suatu cara untuk
menyatkan kadar OH-
pada larutan basa.
pOH = -log [OH-]
Meskipun konsentrasi OH- dapat dinyatakan dengan pOH, tingkat
kebasaan lebih lazim dinyatkan dengan pH, yaitu dengan nilai pH lebih dari 7.
Semakin tinggi nilai pH maka semakin tinggi sifat basanya. Larutan pH 13, 10
kali lebih basa dibandingkan dengan larutan pH 12.
Konsep pKw
Hubungan antara pH dan pOH dapat diturunkan
dari persamaan kesetimbangan air (Kw).
Kw = [H+] x [OH-]
Jika kedua ruas persamaan diberi tanda
negatif logaritma, maka diperoleh persamaan:
-log Kw = -log [H+] x [OH-]
-log Kw = (-log[H+]) + (-log[OH-])
Dengan p = -log, maka:
pKw = pH + pOH
Pada suhu kamar, air memiliki harga Kw
= 1x10-14 maka nilai pH + pOH =
pKw = 14.
Pengukuran
pH
Dalam penentuan pH larutan dapat dilakukan
dengan beberapa cara, yaitu dengan menggunakan indikator, indikator universal
maupun pH meter.
Penggunaan
Indikator
Indikator yang digunakan untuk mengukur pH
larutan adalah senyawa asam organik lemah yang dapat berubah warna pada rentang
pH tertentu. Harga pH suatu larutan dapat diperkirakan dengan menggunakan
trayek pH indikator. Suatu indikator mempunyai trayek perubahan warna yang
berbeda-beda. Dengan demikian dari uji larutan dengan beberapa indikator akan
diperoleh daerah irisan pH larutan. Contoh suatu larutan dengan brom timol biru
(pH 6,0-7,6) berwarna biru, dengan fenoftalein (8,3-10,0) tidak berwarna, maka
larutan tersebut mempunyai pH antara 7,6-8,3. Hal ini disebabkan jika brom
timol biru berwarna biru, berarti pH larutan lebih besar dari 7,6 dan jika
dengan fenoftalein tidak berwarna berarti pH larutan kurang dari 8,3.
Tabel trayek perubahan warna beberapa
indikator pH dapat dilihat pada tabel ini.
Penggunaan
Indikator Universal
pH suatu larutan juga dapat ditentukan
dengan indikator universal, yaitu campuran beberapa indikator yang dapat
menunjukan pH suatu larutan dari perubahan warnanya.
Tabel perubahan warna indikator universal
dan beberapa contoh bahan makanan yang mewakili masing-masing pH dapat dilihat
pada tabel ini.
Penggunaan pH
meter
pH meter adalah alat pengukur pH dengan ketelitian
yang lebih tinggi dibanding indikator.
Teori Asam
Basa Bronsted-Lowry
Hidrogen klorida (HCl) dalam air bersifat
asam dengan melepaskan ion H+, namun dalam benzena HCl tidak dapat melepaskan
ion H+. Hal ini disebabkan airlah yang menarik atau mengikat ion H+ (proton)
dari HCl. Sedangkan benzena, tidak memiliki kecenderungan untuk menarik ion H+,
sehingga HCl tak terdisosiasi dalam benzena. Jadi dalam air, HCl terionisasi
membentuk ion H3O+.
Menurut teori Bronsted-Lowry, asam adalah
zat yang dapat menghasilkan dan mendonorkan proton (H+) pada zat lain,
sedangkan basa adalah zat yang dapat menerima proton dari zat lain. Menurut
teori ini, setiap zat dapat berperan sebagai asam maupun basa. Bila zat
tertentu lebih mudah melepas proton, maka zat ini akan berperan sebagai asam,
dan zat lainnya akan berperan sebagai basa, dan demikin pula sebaliknya. Dalam
suatu larutan asam, air berepran sebagai basa.
HCl
+ H2O
-> Cl-
+ H3O+
Asam
basa
basa
konjugat
asam konjugat
Dalam reaksi diatas HCl dan Cl- adalah
pasangan asam-basa konjugasi yang dapat bersifat reversibel, dan dalam reaksi
tersebut air berperan sebagai basa. Namun berbeda halnya, dengan saat air
bereaksi dengan ion CO32-,
ion tersebut berperan sebagai basa, sehingga air berperan sebagai asam.
H2O
+ CO32-
-> OH-
+ HCO3-
Asam
basa
basa
konjugat
asam konjugat
Zat seperti air yang dapat berperan sebagai
asam atau basa disebut sebagai zat amfoter. Air adalah zat amfoter yang khas.
Reaksi antara dua molekul air akan menghasilkan ion hidronium dan ion
hidroksida.
H2O
+ H2O
-> OH-
+ H3O+
Asam
basa basa
konjugat asam konjugat
Teori Asam Basa Bronsted-Lowry
Teori asam basa Bronsted-Lowry ini dinyakan oleh kimiawan Denmark Johannes Nicolaus Bronsted dan kimiawan Inggris Thomas Martin Lowry pada tahun 1923. Teori mereka mengungkapkan konsep asam dan basa dalam lingkup yang lebih luas dari teori asam basa Arrhenius. Suatu zat dapat dikatakan asam jika zat tersebut mampu menghasilkan dan mendonorkan proton (H+) pada zat lain, sedangkan basa adalah zat yang dapat menerima proton (H+) dari zat lain. Berdasarkan teori ini, maka reaksi antara HCl dan NH3 dapat ditulis dengan persamaan berikut:
HCl + NH3 -> NH4Cl
Dibandingkan dengan toeri asam basa Arrhenius, teori Bronsted-Lowry memiliki fleksibilitas yang lebih tinggi dalam aplikasinya. Teori Bronsted-Lowry tidak hanya dapat diterapkan pada pelarut air, tapi juga pada pelarut-pelarut lain yang mengandung hidrogen, bahkan dapat juga diterapkan pada kondisi tanpa pelarut. Teori ini juga bermanfaat untuk menyatakan asam dan basa bukan hanya pada molekul, namun dapat juga pada anion atau kation.
Teori Asam Basa Lewis
Menurut Lewis suatu zat dapat dikatakan asam jika zat tersebut dapat menerima pasangan elektron bebas dan sebaliknya suatu zat dinyatakan basa jika zat tersebut dapat menyumbangkan sepasang elektron bebas. Konsep asam dan basa ini sangat membantu menjelaskan reaksi senyawa organik dan reaksi pembentukan senyawa kompleks yang tidak melibatkan ion hidrogen maupun proton. Sebagai contoh reaksi yang terjadi pada NH3 dan BF3 yang dapat ditulus dengan persamaan:
NH3 + BF3 -> F3B-NH3.
Pada reaksi diatas NH3 dapat dikatakan basa karena memiliki sepasang elektron bebas, sedangkan BF3 kekurangan elektron, sehingga kedua senyawa tersebut saling bereaksi melalui sepasang elektron bebas yang digunakan bersama.
Berdasarkan kemampuan mengionnya, baik asam maupun basa dapat dibedakan kekuatannya, yaitu asam kuat dan asam lemah, serta basa kuat dan basa lemah.
Teori Asam Basa Bronsted-Lowry
Teori asam basa Bronsted-Lowry ini dinyakan oleh kimiawan Denmark Johannes Nicolaus Bronsted dan kimiawan Inggris Thomas Martin Lowry pada tahun 1923. Teori mereka mengungkapkan konsep asam dan basa dalam lingkup yang lebih luas dari teori asam basa Arrhenius. Suatu zat dapat dikatakan asam jika zat tersebut mampu menghasilkan dan mendonorkan proton (H+) pada zat lain, sedangkan basa adalah zat yang dapat menerima proton (H+) dari zat lain. Berdasarkan teori ini, maka reaksi antara HCl dan NH3 dapat ditulis dengan persamaan berikut:
HCl + NH3 -> NH4Cl
Dibandingkan dengan toeri asam basa Arrhenius, teori Bronsted-Lowry memiliki fleksibilitas yang lebih tinggi dalam aplikasinya. Teori Bronsted-Lowry tidak hanya dapat diterapkan pada pelarut air, tapi juga pada pelarut-pelarut lain yang mengandung hidrogen, bahkan dapat juga diterapkan pada kondisi tanpa pelarut. Teori ini juga bermanfaat untuk menyatakan asam dan basa bukan hanya pada molekul, namun dapat juga pada anion atau kation.
Teori Asam Basa Lewis
Menurut Lewis suatu zat dapat dikatakan asam jika zat tersebut dapat menerima pasangan elektron bebas dan sebaliknya suatu zat dinyatakan basa jika zat tersebut dapat menyumbangkan sepasang elektron bebas. Konsep asam dan basa ini sangat membantu menjelaskan reaksi senyawa organik dan reaksi pembentukan senyawa kompleks yang tidak melibatkan ion hidrogen maupun proton. Sebagai contoh reaksi yang terjadi pada NH3 dan BF3 yang dapat ditulus dengan persamaan:
NH3 + BF3 -> F3B-NH3.
Pada reaksi diatas NH3 dapat dikatakan basa karena memiliki sepasang elektron bebas, sedangkan BF3 kekurangan elektron, sehingga kedua senyawa tersebut saling bereaksi melalui sepasang elektron bebas yang digunakan bersama.
Berdasarkan kemampuan mengionnya, baik asam maupun basa dapat dibedakan kekuatannya, yaitu asam kuat dan asam lemah, serta basa kuat dan basa lemah.
TITRASI ASAM BASA
Titrasi merupakan salah satu metode analisis kuantitatif untuk mengetahui kadar zat dalam suatu larutan (sampel) dengan suatu larutan standar yang telah diketahui konsentrasinya. Suatu zat yang akan ditentukan kadarnya disebut titran sedangkan larutan standar yang telah diketahui kadarnya disebut titer atau pentiter.
Titrasi biasanya dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat dalam proses titrasi. Titrasi yang melibatkan senyawa asam-basa melalui reaksi netralisasi, maka disebut titrasi asam basa yang dapat berupa asidimetri (titer berupa senyawa asam) ataupun alkalimetri (titer berupa senyawa basa). Dalam sebuah titrasi pentiter ditambahkan tetes demi tetes hingga tercapai keadaan ekuivalen (dimana titran tepat habis bereaksi dengan titer), kondisi tersebut disebut titik ekivalen. Dalam sebuah titrasi, selalu diperlukan indikator yang akan berperan dalam menentukan kapan suatu titrasi harus dihentikan, yaitu pada titik akhir titrasinya. Titik akhir titrasi seharusnya mendekati titik ekivalennya, namun umumnya akan melebihi titik ekivalen tersebut.
Dalam menguji apakah suatu reaksi asam basa layak atau tidak untuk digunakan dalam titrasi, maka terlebih dahulu dibuat kurva titrasi. Kurva titrasi terdiri dari ploh pH atau pOH terhadap mililiter (ml) titer. Kurva akan bermanfaat untuk menilai kelayakan titrasi dan dalam pemilihan indikator yang tepat.
Langganan:
Komentar (Atom)